Monday, March 2, 2026

Bukan Sekadar Menahan Lapar: Mana yang Lebih Efektif, Puasa 16 Jam atau Ramadhan?

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa pola makan manusia modern justru memicu begitu banyak penyakit? Jawabannya sederhana: tubuh kita masih membawa "cetak biru" (blueprint) nenek moyang dari 150.000 tahun lalu yang terbiasa dengan siklus lapar dan kenyang yang ekstrem.

Saat ini, dua metode puasa sangat populer: Intermittent Fasting (IF) 16:8 yang mendunia di kalangan pegiat kesehatan, dan Puasa Ramadhan yang telah menjadi tradisi ribuan tahun. Namun, dari sudut pandang biokimia dan kronobiologi, mana yang sebenarnya lebih efektif bagi sel tubuh kita? Mari kita bedah secara saintifik. 

1. Analisis Biokimia: Duel Antara Insulin dan Autofagi

Perbedaan mendasar kedua pola ini terletak pada asupan air.

  • Puasa Ramadhan (Dry Fasting): Karena tidak ada asupan air, terjadi kondisi yang disebut tekanan osmotik seluler. Secara biokimia, ini memicu autofagi (proses pembersihan sel dari protein rusak) jauh lebih cepat dan lebih dalam. Selain itu, penurunan insulin yang drastis memaksa tubuh membakar lemak (ketosis ringan) justru saat Anda masih aktif bekerja di siang hari.

  • Puasa 16 Jam (Water Fasting): Metode ini menawarkan jendela waktu tanpa insulin yang lebih panjang. Puncak perbaikan jaringan terjadi saat Anda tidur, di mana hormon pertumbuhan (Human Growth Hormone) meningkat pesat. Namun, karena Anda tetap minum air, tekanan biologis untuk regenerasi sel tidak seintens puasa kering.

2. Sudut Pandang Ritme Sirkadian (Jam Biologis)

Tubuh kita adalah mesin yang diatur oleh cahaya matahari. Di sinilah Puasa Ramadhan menunjukkan keunggulannya secara evolusioner.

  • Puasa Ramadhan (Menyertai Cahaya): Pola ini sangat selaras dengan ritme sirkadian. Lambung dan pankreas kita paling sensitif terhadap insulin di siang hari. Dengan berpuasa saat matahari terbit hingga terbenam, kita memberikan istirahat total pada organ pencernaan tepat saat metabolisme sedang berada di puncaknya. Inilah yang disebut Hormesis—stres ringan yang justru menguatkan sel.

  • Puasa 16 Jam (Melewatkan Sarapan): Pola ini praktis secara sosial, namun memiliki risiko. Makan besar di malam hari (mendekati jam tidur) dapat mengganggu suhu inti tubuh dan menghambat sistem glimfatik (pembersihan "sampah" di otak) yang bekerja optimal saat perut kosong di malam hari.

3. Ketajaman Kognitif: Fokus Sang Pemburu

Menariknya, rasa lapar justru bisa membuat kita lebih cerdas.

  • Puasa Ramadhan: Tanpa air dan kafein, otak akan memproduksi BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor) lebih tinggi pada sore hari. Ini adalah protein yang merangsang pertumbuhan neuron baru. Secara evolusi, manusia purba menjadi paling fokus saat lapar agar sukses berburu.

  • Puasa 16 Jam: Memungkinkan hidrasi (kopi/teh tawar) di pagi hari. Ini membantu aktivitas kognitif stabil bagi pekerja kantoran modern, meski potensi "lompatan" regenerasi selnya tidak sekuat Ramadhan. 

Berikut ini adalah perbandingan antara Puasa Ramadhan dan Puasa 16 Jam 

Tabel Perbandingan: Ramadhan vs IF 16:8
FiturPuasa Ramadhan (Dry)Puasa 16 Jam (Water)
Autofagi SelLebih Intens & CepatBertahap
Pembersihan GinjalTekanan Osmotik TinggiStandar
Hormon PertumbuhanTinggi di Sore HariTinggi saat Tidur Malam
Keselarasan SirkadianSangat SelarasModerat
Efek MentalFokus Survival (BDNF)Fokus Stabil (Hidrasi)

Kesimpulan: Mana Pemenangnya?

Jika tujuan Anda adalah Regenerasi Seluler Jauh (Deep Repair), maka Puasa Ramadhan adalah pemenangnya. Tekanan biologis tanpa hidrasi selama 12-14 jam memicu pembersihan protein rusak penyebab penyakit degeneratif secara lebih efisien—mirip dengan kondisi ekstrem manusia 150.000 tahun lalu.

Namun, jika Anda mencari Fleksibilitas Gaya Hidup, maka Puasa 16 Jam (IF) adalah pilihan yang lebih praktis untuk dijalankan sepanjang tahun tanpa mengganggu rutinitas sosial. 

Rujukan: 

Alirezaei, M., et al. (2010). "Short-term fasting induces profound neuronal autophagy." Autophagy, 6(6), 702-710. doi:10.4161/auto.6.6.12376.

Caspari, R., & Lee, S. H. (2004). "Older age becomes common late in human evolution." Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), 101(30), 10895-10900. doi:10.1073/pnas.0401732101.

Longo, V. D., & Panda, S. (2016). "Fasting, Circadian Rhythms, and Time-Restricted Feeding in Healthy Lifespan." Cell Metabolism, 23(6), 1048-1059. doi:10.1016/j.cmet.2016.06.001.

Mattson, M. P. (2012). "Energy intake and exercise as determinants of brain health and vulnerability to injury and disease." Cell Metabolism, 16(6), 706-722. doi:10.1016/j.cmet.2012.08.012.


Ohsumi, Y. (2014). "Historical landmarks of autophagy research." Cell Research, 24(1), 9-23. doi:10.1038/cr.2013.169.

===== 

Catatan: Tulisan ini disusun untuk tujuan edukasi dan berbagi wawasan ilmiah dari perspektif biokimia, anatomi, dan biologi evolusi. Informasi dalam artikel ini tidak dimaksudkan sebagai saran medis profesional, diagnosis, atau pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan ahli. Tulisan ini disusun menggunakan AI dalam pengorganisasian data biokimia dan kronobiologi.


Sunday, April 7, 2024

Anjing Mawu - Anjing Terlatih dan Denda Emas dalam Naskah Tanjung Tanah

Naskah Tanjung Tanah merupakan suatu naskah fenomenal bagi masyarakat Sumatera. Naskah itu ditulis dengan menggunakan aksara Sumatera Kuno dengan menggunakan Bahasa Sanskerta dan Bahasa Malayu Kuno. Naskah ini masih tersimpan dengan baik di Tanjung Tanah, Mendapo Seleman, dengan jarak 15 km dari Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi (Wikipedia)

Sebagaimana yang terjadi di Masyarakat Kerinci, undang-undang tersebut merupakan bagian dari kelaziman yang terjadi di tengah masyarakat Malayu secara umum. Ketika ada yang bersalah, salah satu hukumannya adalah dengan denda. Sampai sekarang tradisi kuno itu masih berlanjut dalam masyarakat adat baik di Minangkabau atau Kerinci. Baik Minangkabau atau Kerinci memiliki diagram Venn secara tradisi, ada tradisi-tradisi tertentu atau kebiasaan tertentu yang mereka kedua-keduanya sama-sama menggunakannya. Tentu saja itu bukanlah hal yang mengherankan karena pada masa lalunya antara kawasan Minangkabau dan Kerinci terjadi saling tukar budaya. Kerinci merupakan salah satu kawasan Rantau dari masyarakat Minangkabau juga pada masa lalu. Tentu saja masyarakat Kerinci telah ada di sana sebelumnya. 

Ada satu perkataan yang unik dijumpai dalam Undang-Undang Tanjung Tanah Tersebut, yakni denda untuk pencuri (maling) anjing mawu pada alih bahasa naskah nomor 10. Kata mawu tidak diterjemahkan oleh Uli Kozok  dalam alih aksara yang dia lakukan (cek di sini). Kawa mawu sebenarnya masih lestari digunakan sampai saat sekarang. Mawu ini artinya adalah terlatih. Kata ini masih digunakan oleh Masyarakat Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Frasa yang masih sering terdengar (tahun 1990-an) adalah buruang mawu (burung terlatih yang sudah pandai berkicau ketika diberi aba-aba). Oleh sebab itu bisa digunakan untuk burung balam (balam mawu), perkutut (katitiran mawu) dan burung-burung peliharaan lain yang sudah pintar berkicau. 

Denda pencurian di Kerinci pada masa itu salah satunya dengan emas, denda emas ini masih lestari pula sampai sekarang baik di kawasan Kerinci atau Kawasan Minangkabau sebagai denda adat jika ada yang melakukan kesalahan terhadap aturan-aturan adat yang berlaku. 

Nara sumber: A. Dt Batuah, Koto Baru, Solok (1993).  


Friday, September 15, 2023

Becak, Bendi dan Kerisik bertemu AI

 Sekali air besar, sekali tepian berubah (sakali aia gadang sakali tapian barubah), demikian pepatah lama yang selalu dibaca-bacakan ketika terjadi perubahan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Perjalanan singkat ke Malioboro Yogyakarta September 2023 meninggalkan kesan yang sama. Becak yang dikayuh oleh manusia sekarang dikayuh oleh mesin. Pengendara cukup menekan starter, masin hiduik roda babeleang (mesin hidup roda berputar). Becak motor telah berangsur-angsur menggantikan becak kayuh (gowes). Begitulah kehidupan ini ketika ada yang lebih cepat lebih praktis, suatu tradisi berangsur-angsur berubah apakah lambat atau drastis. Tak ada lagi yang kenal lampu strongkeng (baca Stormking) karena sudah ada lampu neon dan sekarang malah pakai lampu LED. Kembali ke pepatah di atas, bahwa air besar itu hanyalah merubah letak tapian. Yang tapian itu tetaplah tapian. Pada dasarnya manusia butuh cahaya di malam hari, semuanya adalah sumber cahaya untuk manusia beraktivitas di dalam hari, mulai dari nyala api unggun, suluh, lampu dama, petromax, lampu neon/TL sampai sekarang ke lampu LED. 

Ketika semuanya sudah serba modern, di kawasan wisata, adakalanya orang butuh suasana masa lalu, tidak masalah, bagusnya di kawasan wisata saja, tarif untuk penggunaan jasa "seperti masa lalu" itu bayarnya lebih mahal daripada jasa yang ada di zaman modern. Kalau tidak, maka jasa becak kayuh itu pastilah akan punah ditelan zaman, kita hanya rindu, tapi siapa pelaku dari objek kerinduan itu?. Kita ingin kembali ke  masa lalu, sebuah keinginan yang melawan arus zaman, tentu ada konsekuensinya, bayarlah lebih mahal karena untuk dinikmati sekali-sekali saja. Meskipun sarana transportasi di Jepang sudah sedemikian canggih, kita masih bisa menikmati suguhan tradisional becak manusia (rickshaw) atau jinrikisha (人力車), becak manusia yang dulu lazim terjadi di Asia. Tapi yaaa "sore wa takai desu, nee" (itu mahal lho..) karena itu jasa untuk kawasan wisata. Becak manusia ini dulunya ada di jaman penjajahan Belanda, tapi entahlah kalau di Ranah Minang, bisa saja dulu ada.. Tapi yang saya saksikan semasa kanak-kanak adalah hanyalah bendi saja. Kereta yang ditarik orang itu tidaklah lagi dijumpai tahun 1980-an. Bendi ini akhirnya tidaklah laris lagi digantikan oleh bemo, angkutan mini (oplet, carry) dan cigak baruak (angkutan pedesaan, angdes) di kampung-kampung. Makanya kita dengar dendang tukang Rabab Pesisir Hasan Basri mengatakan:

Apa ka dayo si pisang lidi            (apalah daya si pisang lidi)
Batang lansek alah rabah pulo    (batang langsat sudah rebah pula)
Apo ka dayo si kusia bendi           (apa lah daya si kusir bendi)
Oto ketek manambang pulo         (mobil mini menambang [ikutan narik] pula)

Asben dan Melati, duet penyanyi Minang legendaris pernah membawakan lagu Ratok Karisiak (Ratap Kerisik). Karisiak (kerisik) adalah daun pisang yang sudah mengering. Liriknya bagus sekali, dahulu daun pisang, ini barabuik urang maambiak (berebutan orang mengambil), ditanai seperti melipat kain, dan bahkan dijunjung ke pasar supaya tidak rusak daunnya. Bukti penghargaan kepada daun pisang itu pertama, disegerakan, kedua diperlakukan baik-baik dan ketiga dijunjung (diletakkan di posisi) tertinggi ketika masuk ke keramaian (pasar). Sekarang zaman telah berganti, plastik sudah merajalela, praktis dan murah. Akibatnya daun pisang tidak pendapatkan prioritas lagi, hingga sampai jadi karisiak (kerisik) yang tergantung di batang pisang. Namun, pada akhir lagu duet legendaris ini kembali berharap kiranya nanti daun pisang naik pamor lagi. Ya, saya menikmati makan dengan daun pisang di pondok setelah menemani nenek ke sawah dulunya tahun 1984 di kampung. Lalu kembali menikmati makan dengan daun pisang ini di rumah makan India di dekat University of Malaya, Kuala Lumpur tahun 2006. Tentu saja tarifnya mahal. Kalaulah makan dengan daun pisang dengan pemandangan sawah ada restorannya, tentu saja tarifnya beda dengan tarif rumah makan di kawasan ibu kota yang sesama rumah makan padang, saling banting harga sampai tahun 2023 ada rumah makan Padang (Minang) harga Rp.10.000/bungkus. Perang tarif yang mengerikan, yang menjadikan rumah makan padang lebih murah dari warteg yang dulu dianggap kelasnya oleh 'kalangan tertentu' di bawah RM Padang. Tentu saja anggapan itu tidak sepenuhnya benar, masalah rasa itu tidak bisa dibandingkan. Ya begitulah.. bukan warteg yang 'melibas' RM Padang karena beda segmen pasar, tapi awak samo awak (kita sama kita). Andaikan kita masih memakai tradisi raso-raso seperti dulunya, tentu ini dapat dicegah.
Sekarang, artificial intelligence (AI) sudah merambah peradaban, ini adalah aia gadang tipe galodo (air bah datang mendadak, menghanyutkan apa saja yang dilewatinya tanpa ampun) tentunya kita bersiap-siap menyaksikan seperti apa bentuk tapian-tapian (tepian) di masa mendatang. 

Monday, July 10, 2023

KALASON - TRADISI SENI MUSIK MINANG LEGENDARIS

 

Tak ada orang tua-tua yang saat sekarang berumur 50 tahun ke atas (tahun 2023) yang tidak tahu dengan kalason. Kalason adalah seni musik instrumen khas Minang (saat sekarang Sumatera Barat) yang berupa alat musik petik yang dipasang kendaraan bermotor yang biasanya bus atau truk sebagai hiburan selama dalam perjalanan. Musik-musik yang dimainkan berirama khas lagu-lagu Minang klasik, tetapi tidak tertutup juga kemungkinkan lagu-lagu lain dimainkan juga.Irama kalason ini juga bisa dimainkan dengan keyboard alat musik organ. Mobil Chevrolet 1957 dilengkapi dengan instrumen legendaris ini silakan dicek di laman Youtubenya di Safri Chanel.

Tradisi kalason ini muncul karena adanya semacam keinginan untuk mendapatkan hiburan sepanjang perjalanan di bus masa-masa tahun 60-70an. Nada-nada musik yang dimainkan mengikuti nada-nada saluang atau rabab.  Setiap bus memiliki ciri khas lagu-lagu yang mereka mainkan. Lagu Sinar Riau adalah salah satu lagu yang terkenal yang sering dimainkan dengan kalason. Sopir tidak saja menjadi pengendara yang handal melewati jalan-jalan perbukitan di Sumatera yang terkenal berbahaya, tapi juga seorang seniman. Tak salah kiranya sopir ini disukai bahkan dicintai banyak orang. Akibatnya sopir ini disebut salah seorang yang seiring punya isteri lebih satu di masa itu. Saat sekarang bus-bus AKAP dilengkapi dengan telolet, tapi yaa sepertinya seni kalason ini jauh lebih artistik dibandingkan dengan telolet.

Kalason ini merupakan alat musik petik yang dipasang di bawah setir mobil yang bisa dimainkan dengan satu tangan saja. Perjalanan bus di zaman dahulu tidaklah secepat sekarang, tentu saja para sopir bisa memainkannya dalam perjalanan. Jalan-jalan dahulu bahkan ada jalan tanah yang di musim hujan sulit sekali dilewati. Orang-orang tua dulu di zaman PRRI sering menyebutkan pameo perbandingkan antara jalan di Jakarta dengan jalan di daerah. Kalau di Jakarta ada tulisan "Awas Jalan Licin", sementara di daerah "Awas Jalan Berlubang!". Saking berlubangnya jalan di masa itu, kerbau bisa menggunakannya untuk kubangan.

Penemu kalason ini tentu saja menarik untuk ditelusuri bersama, siapakah yang pertama kali menggagas alat musik memikat ini. Bagaimana proses kreatif penciptaan alat ini sehingga menjadi simbol kesenian khas Minangkabau di zaman modern tentunya patut diberikan penghargaan. Tentunya ini bisa jadi kajian menarik untuk akademisi terutama yang terkait seni dan budaya Alam Minangkabau. Tidak tertutup juga kemungkinan seni kalason ini didaftarkan jadi kekayaan tak benda masyarakat Minangkabau sebelum ilang disamba alang (hilang pula disembar elang).

Alhamdulillah, upaya pelestarian itu sepertinya sudah ada, beberapa orang masih mengkoleksi alat musik legendaris ini dan masih bisa memainkannya di zaman ChatGPT yang mulai mengganas seperti di laman Youtube Biladari Chanel

Berikut ini lagu-lagu klasik yang biasa dimainkan kalason di masa lalunya: Sinar RiauLubuak Sao, Palayaran Banda, Ratok Karisiak, Kamamam, Mudiak Arau, Tacinto Bungo Larangan, Singgalang  dan banyak lagi lagu-lagu lama.




Thursday, May 5, 2022

Ke Monas dengan MRT dan Bus Way

 Jika ada yang ingin ke Monas dari Lebak Bulus, Jakarta Selatan atau jalur MRT  menggunakan MRT jurusan Lebak Bulus - Bundaran HI, maka turunlah di Stasiun Bendungan Hilir, kemudian pindah ke Halte Bus Way, ambil jurusan Blok M - Kota, dan kemudian turun di Halte Monas. 

Sesederhana itu. Nantinya akan ada pengembangan MRT Fasa 2 yang sudah dimulai bulan Januari 2022, semoga saja rute baru melewati Monas tersebut. 

Friday, September 4, 2020

Bermain Biola

 

Biola merupakan alat musik gesek yang bunyinya benar-benar menghanyutkan jika dimainkan oleh orang yang pintar menggeseknya. Jika seseorang baru belajar bermain biola, bunyinya benar-benar mengesalkan. Bahkan disarankan di daerah sepi saja seperti di ladang atau di sawah. Jika di kota di ruang kedap suara. Jangan selebai gitu lah, Om.. 

Berikut ini adalah nada-nada masing-masing senar biola. Linknya berasal dari : https://brebru.com/violin/v4/fiddletuning.jpg

 


Sementara untuk nadanya, bisa dilihat pada peta di bawah ini. Gambar diambil dari situs https://i.pinimg.com/originals/11/92/33/1192339fec4700714969cd2cd9a00880.jpg 

Mau fingering yang lebih lengkap lagi, silakan dilihat di gambar di bawah ini. Sumbernya link https://www.violinonline.com/images/violinbasics_fingerboardwithsound/fingerboard.gif


Selamat main biola!

Tuesday, January 14, 2020

Mengganti Setting Bahasa Pada Brave Browser ke English

Mengganti setting bahasa pada Brave Browser gampang-gampang susah juga. Ada cara yang paling praktis ketika bahasa yang ditampilkan itu tidak sepenuhnya dimengerti, contohnya Brave Browser tampil dengan bahasa Jepang.

Solusinya:


  1. Tutup Brave Browser
  2. Buka C:\Program Files (x86)\BraveSoftware\Brave-Browser\Application\79.1.2.42\Locales\
  3. Cari ja.pak , delete  (untuk bahasa Jepang)
  4. Selesai
Selanjutnya Anda bisa melayari web dengan bahasa Inggris.
Selamat mencoba !

Bukan Sekadar Menahan Lapar: Mana yang Lebih Efektif, Puasa 16 Jam atau Ramadhan?

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa pola makan manusia modern justru memicu begitu banyak penyakit? Jawabannya sederhana: tubuh kita masi...